The Team
Senangnya saya ketika kembali diminta sutradara Joko Anwar menggarap musik untuk film “Pintu Terlarang” (PinTer) setelah kegilaan kami bersama tertuang di film sebelumnya, KALA, dimana pembuatan musiknya sangat intense dan menyenangkan.
Setelah ditelpon dan kita ketemu di sekitar bulan April, dia mulai membicarakan sinopsis cerita-nya..dan saya belum ‘ngeh’ membayangkan film ini sampai dia memberikan saya script-nya..setelah saya baca di rumah dengan seksama, tidak sampai 10 menit saya baca saya langsung SMS dia “this is fuc#ing brilliant!!” ..dan so our deal is on!
Long story short..saya lalu memilih team musik dengan merekrut Bemby Gusti dan Ramondo Gascaro (team saya untuk film Berbagi Suami dan Quickie Express) untuk bersama saya membuat musik scoring-nya…serta saya meminta bantuan Zeke Khaseli (team saya untuk film KALA) untuk membuat lagu2 yang sifatnya “songs”…tak lama setelah itu, Joko juga meminta saya untuk mengajak TIKA dan band SORE untuk juga menyumbang lagu2 di dalam film ini,
Jadi inilah team inti kami:
Original Music Score by: Aghi Narottama, Bemby Gusti, Ramondo Gascaro
Additional Songs by: Zeke Khaseli, SORE, TIKA
So untuk meluruskan kesimpangsiuran siapa sih sebenernya yang membuat musik Pintu Terlarang? jawabannya adalah nama2 tersebut di atas, dengan fungsi dan job desc yang terbagi2…so it’s not a one-man show..it’s a team work!…sebuah cara kerja yang selalu saya pilih karena it’ll make the music much richer and more exciting….dan kami sengaja tidak menaruh kata2 “Music Director” di sini karena agak terlalu rancu artinya jika dilakukan dengan team yang cukup ramai….sayang Hans Zimmer (yang entah dapat kabar dari mana digosipkan ramai di internet dan mailing list bahwa dia ikutan bikin musik di film ini) nggak jadi ikutan karena dia nggak mau dibayar cuma pakai pecel lele..hehe..it’s ok..we don’t need him anyway..
The Idea
Awalnya Joko memberikan ide untuk musik film PinTer ini bahwa musiknya akan dibuat “mocking” jadi dibuat kontradiktif dengan situasi ceritanya, dimana (mudah2an anda sudah membaca sinopsis ceritanya) situasi karakter Gambir yang penuh dengan hal2 absurd dan twisted akan diiringi musik2 yang light-hearted berirama jazzy dan oldies.. wow..sebuah tantangan seru..namun kami belum bisa yakin kalau ide ini akan sesuai dengan gambar, karena kita bener2 have no idea what’s the picture is going to look like..tapi kami tetap start mencari cari referensi musik2 seperti musik2 Howard Shore, Lex Baxter, dan beberapa musisi Jazz tahun 50-an
Dan sebelum mereka shooting Joko memberi saya PR untuk membuat musik untuk opening credit, di mana memang diperlukan duluan karena opening creditnya akan berupa animasi..Joko meminta saya untuk membuat musik bernuansa musik acara TV tahun 50-60-an, seperti serial TV “Land of Giants” atau “Time Machine”..so ada banyak sekali referensi musik di kepala kami saat itu..hehe
The Shooting Days
Tibalah saat shooting, and this is a time for us to “wait and see” karena semua ide awal bisa saja berubah jika shooting sudah dilakukan..dan perkiraan kami benar..di tengah2 waktu shooting..Joko menelpon saya dan mengatakan kalau ide nuansa Jazz nampaknya tidak akan sesuai dengan gambarnya..dan ide “mocking” itu juga akan sulit dilakukan karena filmnya jadi jauh lebih “dark” dari yang direncanakan..
So..di antara hari2 shooting itu, saya kembali bertemu dengan Joko, dan dia memberi referensi baru untuk scoring-nya: The Shining!! Huahahaha..saya cukup kaget karena musik film The Shining adalah salah satu musik paling seram dan disturbing yang pernah saya dengar selain musik film G30S/PKI.
.selain itu Joko juga meminta kami untuk mencari2 musik2 yang sifatnya dark-atmospheric dengan sound2 yang lebih menyerupai sound design ketimbang musik bernada..ok..kita jabanin! Saya juga memberikan ide bahwa nanti kita akan memakai bunyi2an perkusif dengan menggunakan barang2 sampah (junk) yang suaranya cukup menghasilkan nuansa intense..dalam hal ini saya berencana memakai drum besar (untuk minyak tanah), sebuah sink baja, dan macam2 junk lainnya yang kalau dipukul akan berbunyi aneh..hehehe..it’s gonna be crazy!
Joko juga sedikit merubah konsep songs-nya dari broadway-style musik menjadi a very beatuiful-light-hearted oldies songs seperti lagu2nya Englebert Humperdinck, Al Gouly, dll..
Untuk scoring, saya setuju dengan perubahan ini karena akan membuat penonton lebih mudah mengikuti alur cerita dan lebih memainkan emosi ketimbang mereka harus menebak2 apa maksudnya kalau musik ini dibuat secara “mocking”…namun konsep “mocking” itu sendiri tidak sepenuhnya dihilangkan..untuk songs..konsep ini tetap berlaku, cuma style musik-nya aja yang agak dirubah..
The Production
Tibalah waktu preview!! Di bulan puasa yang panas itu kami berkumpul di tempat editing dan memulai preview editing-nya..Joko juga sudah menaruh beberapa referensi musik yang dia pilih di beberapa spot adegan, untuk memudahkan kami dalam menentukan spot..dan ternyata benar bahwa scoringnya lebih cocok jika dibuat sesuai dengan gambar (non-mocking) namun untuk beberapa adegan dengan musik yang sifatnya songs, konsep mocking itu sangat terasa and it works very well!!..so ini akan menjadi sebuah kombinasi musik yang cukup aneh, twisted dan emosional sekali..hehehe
Lalu saya mengadakan workshop bersama team SONGS, untuk Zeke mendapat 5 spot lagu, dimana dia akan membuat musiknya bersama band baru-nya yang diberi nama Mantra (bersama Emil Naif, Anda, Leo, Yudi dll) dan satu lagu dia lempar ke sebuah band jazz bernama Notturno
Untuk SORE mendapat 2 spot lagu, dan mereka akan featuring seorang vokalis angkatan lama yang tidak lain adalah bapaknya Ramondo Gascaro sendiri..
dan TIKA mendapat 1 spot lagu, dimana dia akan bekerja dengan band-nya, TIKA and The Dissidents bersama Iman Fattah, Lucky Anash dll
Dan ternyata ada 1 spot yang kurang, dan itu adalah spot lagu untuk adegan makan malam yang bernuansa natal (referensi awal adalah A Christmas Song by Nat King Cole, namun ), namun lagu ini tidak akan cocok bila digarap oleh SORE, TIKA atau Zeke..so kami sepakat untuk membuat lagu ini khusus dan dibuat dari nol..Ade Paloh (SORE) yang membuat musik dan lirik dasarnya, dan dinyanyikan oleh seorang pendatang baru: Alfred Ayal…dan lagu ini kita beri nama “A Merry Mist”
Setelah workshop, saya pun bisa “melepas” Zeke, SORE dan TIKA untuk membuat lagunya masing2 dengan bebas ..dan pekerjaan saya, Bemby dan Mondo pun dimulai.
The Recording Sessions
Scoring musik PinTer dimulai dengan pembuatan musik MIDI untuk preview pertama kepada sutradara..kami bertiga mulai men-compose musik dengan menggunakan software Propellerhead Reason selama libur lebaran..dan semua berjalan sangat lancar karena kami bertiga memang sudah “satu kepala” jadi begitu kami berkumpul lagi dan menggabungkan musik2 yg kita compose di rumah masing2…musiknya sungguh sangat menyatu dan saling mendukung warna masing2..
Hari selasa tgl 7 Oktober kami melakukan preview MIDI musik kami dan preview musik rough untuk SONGS kepada Joko, dan semua berjalan sangat lancar…hanya sedikit minor revisi dari Joko untuk beberapa musiknya..selebihnya dia sangat senang dan memberi lampu hijau untuk segera mulai tahap recording dengan para pemain profesional.
Setelah itu, Mondo dan Bemby membuat tulisan score-nya dan kami juga langsung menyiapkan layer2 track guide di Pro Tools untuk guide para pemain untuk merekam instrument-nya..however beberapa musik kami tetap menggunakan layer MIDI untuk memberi kesan “tebal” dan “rich”..sebuah konsep yang selalu dilakukan oleh Danny Elfman (Batman Returns, Sleepy Hollow, Edward Scissorhand, etc), di mana dia selalu menggabungkan unsur orchestra dan MIDI dalam setiap scorre-nya…terlebih untuk film PinTer ini banyak musik scoringnya menggunakan musik yang bergaya sound2 design yang di-enhanced sedemikian rupa sehingga terdengar seperti gelombang2 suara TV dan radio serta suara2 “inner mind” dari karakter Gambir ini..jadi yang akan direkam ulang dengan menggunakan instrumen asli adalah: Piano, Guitars, Strings Section (Violin-Viola-Cello), Alto Sax, Tenor Sax, Clarinet, Choir, Drums and Junk Percussions.
Recording session musik scoring-nya dimulai dengan merekam drum track oleh Bemby. Tidak banyak drum track yang ada untuk score film ini, jadi Bemby menyelesaikan semuanya tidak lebih dari 1 jam..sisanya dia mengisi drum untuk lagu SORE di film ini. Dan karena banyaknya waktu tersisa, Mondo pun mengisinya dengan merekam track piano, guitar dan backing vocal untuk lagu “Merry Mist”
Di sesi kedua kita merekam saxophone dan clarinet yang dimainkan oleh satu orang, yaitu Bimo Haryo Prakoso. Dia adalah pemain profesional yang biasa mengisi permainan instrumen untuk live dengan Twilite Orchestra, juga pernah mengisi rekaman untuk album SORE , Ports of Lima.
Permainan saxophone di score ini dibuat hampir tanpa tulisan score, hanya beberapa spot saja..sisanya kita membiarkan Bimo memainkan saxophone-nya dengan improvisasi dia sendiri, and he’s done it termendously well!! Nuansa dark dan twisted dengan gaya noir keluar dari permainan spontan-nya..serta permainan clarinet yang sangat rapi membuat semuanya tampak mudah baginya..kita yang berada di balik kaca ruang recording cuma bisa mengangguk angguk puas..
Sesi ketiga adalah sesi yang paling seru, karena ini adalah sesi junk percussions..kenapa saya bilang junk percussions? Karena perkusi yang kami mainkan adalah terdiri dari: sebuah drum yang biasa dipakai untuk menyimpan minyak, sebuah sink dari bahan stainless steel, sebuah standbook (yang biasa dipakai untuk menaruh score sheet), sebuah kick drum yang kita tidurkan posisinya, dan sebuah floor tom
Sehari sebelum sesi ini saya sempet bingung mencari drum besar, untung Tika punya beberapa sisa drum yang tak terpakai untuk Kafe Kedai-nya dan dia mau meminjamkan satu untuk saya…mudah2an dia tidak marah karena sekarang drum-nya sudah penyok-penyok..begitu juga dengan sink stainless steelnya..saya colong itu dari rumah, sebetulnya sink itu untuk rumah saya yang akan dibangun nanti, tapi karena tidak sempat beli, akhirnya saya “pinjam” dulu untuk scoring ini..dan setelah dipukul2 secara membabi buta, sink itu sekarang bentuknya sudah tidak terlalu bersahabat…well..better not tell my wife about it
Di awal sesi ini, sound engineer kita, Pandu, dengan asisten-nya, Jimmy, cukup kerepotan untuk menentukan posisi mic-ing alat2 ini..karena memang belum pernah dilakukan..dan saya biarkan mereka mencari2 posisi, resonance, dan ber-mic-ing technique sesuka mereka..kita semua bereksperimen di sini…hasilnya: Pandu dan Jimmy menaruh posisi alat2 junk ini secara melingkar..lalu selain posisi semi-close-mic untuk setiap alat, mereka juga menaruh beberapa condenser mic yang ditaruh secara melingkar pula di atas ruangan studio untuk mendapat ambient sound yang luas..
Dan saat check sound, kita semua sangat surprise dengan suara yang dihasilkan..sungguh intense, rich, tebal dan ramai!!..sesuai dengan yang kita inginkan….
Dan kita bertiga-lah (Aghi, Bemby, Mondo) yang memainkan dan memukul2 alat2 ini dengan gila2an dan rekaman dilakukan ber-layer2 dan dengan berbagai macam eksperimen..kadang kita bergantian memukul alat2 yang berbeda..kadang kita mencoba memukul alat2 dengan tangan atau mallet, atau stick drum..kadang kita mencoba mencari suara2 gemuruh dengan mengguling2kan drum minyak..bisa dibayangkan betapa serunya sesi ini..hasilnya pun sangat memuaskan, selain tangan kita yang memar2 dan alat2 yang penyok2 dan kemungkinan saya akan didamprat istri karena membuat sink-nya tak berbentuk..
Sesi keempat diisi oleh choir, dan dibantu oleh vocal director handal Irvan Nat yang sudah saya percayakan membantu saya untuk beberapa project sebelumnya (KALA, TVC Bentoel dll)..sangat luar biasa sekali treatment dia untuk choir ini karena hasilnya sungguh di luar dugaan..dan yang paling gila..choir-nya hanya diisi oleh 2 orang saja: Gabe dan Jean..kedua orang ini mampu membuat suara 2 orang menjadi suara 80 orang dengan arahan Irv Nat. Mereka juga pintar merubah timbre dan tone suara mereka sehingga choirnya benar2 terdengar seperti 80 orang..
Sesi terakhir diisi oleh strings section oleh team GEE Strings: Helmy, Condro dan Alvin pada violins, Jacob pada viola dan Santos pada cello. Mereka juga adalah para pemain yang biasa membantu Magenta Orchestra dan Erwin Gutawa, jadi jam terbang mereka tidak perlu ditanyakan lagi. Walaupun begitu, “feel” dan “soul” mereka dalam memainkan musik2 scoring untuk film sebetulnya masih bisa dimaksimalkan lagi, mereka sendiri mengakui kalau mereka terlalu sering memainkan lagu2 pop, hingga tantangan permainan dan perkembangan skill mereka juga tidak terlalu berkembang…walaupun secara kualitas, mereka cukup dikenal sebagai top players di dunia orkestra Indonesia..mudah2an mereka makin sering mengisi music scoring untuk film supaya feel film-nya dapet..
Dan atas alasan itu pula rekaman mereka pun juga dilakukan ber-layer-layer dan berulang ulang. Dan sesi ini selesai dalam waktu sekitar 9 jam, dimulai dari pukul 6 sore dan selesai sekitar jam 3 pagi..sungguh melelahkan. Dan walau saya sebagai mixing engineer nantinya harus bekerja cukup keras mem-filter dan membetulkan beberapa suara strings-nya..namun secara keseluruhan, permainan mereka sangat OK dan memuaskan.
Salut kepada semua player yang mendukung kami di penggarapan scoring film PintTer ini!!! Semoga bisa menjadi team yang solid dan selalu dipakai untuk film2 berikut
NEXT: Music Post Production (in progress)